Naskah CANNIBALOGY karya Benjon
CANNIBALOGY
Karya Benjon
Identitas Naskah
Judul naskah: Cannibalogy
Penulis Naskah: Benjon
Halaman: 54
Tahun Naskah: Tidak tercantum secara jelas dalam naskah (diperkirakan karya kontemporer)
Kota/negara: Indonesia
Jenis naskah: Naskah drama panggung
Genre terkait: Tragedi, satir politik, realisme magis, sejarah kolonial
Jumlah babak: 2 babak
Jumlah adegan: Beberapa fragmen dalam tiap babak (Babak I 5 fragmen, Babak II 5 fragmen)
Jumlah tokoh: Sekitar 15 tokoh utama dan pendukung
Daftar tokoh: Suman
Suhar
Ki Butho
Mas Ageng
Sinta Salim
Landless
Hoffmann
Daeng
Kuro
Sentolo
Kerpo
Kebo
Linggar
Suto
Solih
Gambaran Latar: Cerita berlatar di Mojokuto dan sekitarnya (desa, kuburan, hutan jati, Bengawan Solo, hingga gedung opera setelah penjajahan). Waktu cerita berada pada masa kolonial, terlihat dari hadirnya tokoh Landless dan pasukan Olanda. Suasana sering gelap, mencekam, dan penuh simbol.
Informasi lain: Naskah ini memakai banyak simbol. Ada unsur wayang, jathilan, mantra, dan tokoh-tokoh kolonial yang dibuat agak satir. Bahasa yang dipakai campuran Indonesia dan Jawa, bahkan sedikit Belanda.
Sinopsis:
Cerita dimulai dari Suman yang membongkar kuburan dan memakan mayat demi memenuhi syarat ilmu supaya bisa kaya dan kebal senjata. Ia tertangkap warga Mojokuto dan diadili oleh Mas Ageng. Anehnya, Suman tidak dihukum mati. Ia justru diberi kesempatan untuk menebus kesalahan dengan merawat makam.
Tidak lama kemudian, Mojokuto diserang pasukan kolonial yang dipimpin Landless. Mas Ageng dan pasukannya kalah. Suman ikut melawan dan bergabung dengan kelompok perlawanan di hutan.
Di sisi lain, Suhar yang awalnya miskin bertapa di Bengawan Solo dan membuat perjanjian dengan Ki Butho. Ia harus memberi “kepala” setiap kali derajatnya naik. Suhar kemudian bekerja sama dengan Landless dan justru mendapat jabatan penting. Ia berkhianat pada bangsanya sendiri.
Sinta Salim, selir Mas Ageng, menjadi semacam titik perebutan dan simbol harga diri. Ia diculik dan dijadikan alat politik. Sementara Suman tetap konsisten membela Mojokuto.
Cerita berkembang menjadi konflik antara kesetiaan dan ambisi. Antara mempertahankan tanah sendiri atau menjualnya demi kekuasaan.
Ulasan:
Menurut saya, naskah ini cukup berat. Tidak bisa dibaca santai. Banyak simbol yang kadang membuat bingung. Namun justru di situ letak kekuatannya.
Tokoh Suman menarik karena dia awalnya “pemakan mayat”, tapi justru punya hati yang begitu baik. Sedangkan Suhar, yang terlihat ingin memperbaiki hidup, malah makin tenggelam dalam ambisi dan kerja sama dengan penjajah. Ada semacam ironi di situ.
Tokoh Landless juga terasa seperti sindiran terhadap kolonialisme. Cara bicaranya dingin, strategis, dan memandang pribumi rendah. Tapi tidak ditulis terlalu serius, ada kesan satir.
Bagian mistik seperti perjanjian dengan Ki Butho terasa kuat nuansa Jawa nya. Kadang terasa aneh, tapi memang itu mungkin sengaja, supaya pembaca merasa tidak nyaman.
Jika ditelisik lebih dalam, “kanibalisme” di sini bukan hanya sebatas makan mayat. Tapi bisa dibaca sebagai simbol manusia yang saling memangsa karena kekuasaan.
Secara keseluruhan, naskah ini tidak ringan. Banyak dialog panjang dan adegan simbolik. Tapi kalau dipahami pelan-pelan, isinya tajam. Terutama soal kekuasaan, pengkhianatan, dan bagaimana orang bisa berubah ketika diberi jabatan.

Tidak ada komentar: