Naskah AMAT JAGA Karya Saini K.M
AMAT JAGA
Karya SAINI K.M
IDENTITAS NASKAH
Judul : Amat Jaga
Penulis : Saini K.M.
Halaman : Tidak tercantum eksplisit jumlah total halaman di dalam naskah
Tahun Naskah : 1985
Kota/Negara : Sumedang/Indonesia
Jenis Naskah : Naskah sandiwara/Drama panggung
Genre Terkait : Drama sosial, realisme, kritik sosial tentang modernisasi di pedesaan,
konflik tradisi modern
Jumlah Babak : VII
Jumlah Adegan : 26 adegan
Jumlah Tokoh : Tokoh-tokoh utama dan tambahan yang tercantum di daftar “TOKOH
TOKOH CERITA” adalah: Pemimpin Upacara, Sesepuh, Amat, Amat
Jaga, Tiwi, Kepda, Orang Asing, Sarkam, Sawi, Dudung, Saltiwin, Idi,
Aja, Ijan, Icih, Sadun, Pegawai 1–5, Iroh, Otong, Samad, Prajurit
prajurit, Komandan, Juragan pabrik, Wartawan, Pemuda-pemuda,
gadis-gadis dan orang kampung lainnya.
Daftar Tokoh : Pemimpin Upacara – Pemimpin adat di kampung
Sesepuh – Kepala kampung
Amat – Salah seorang pemuda kampung
Amat Jaga – Pemuda kampung lain yang kemudian menjadi mandor
pabrik penggilingan padi dan perusahaan penyewaan traktor
Tiwi – Putri sesepuh kampung
Kepda – Kepala desa
Orang asing – Petugas perusahaan pabrik/traktor
Sarkam – Pemilik kerbau sewaan
Sawi – Penumbuk padi
Dudung – Petani
Saltiwin – Kawan dan pembantu Amat Jaga
Idi – Petani
Aja – Penangkap ikan
Ijan – Penangkap burung
Icih – Istri petani
Sadun – Pekerja pabrik
Pegawai 1, 2, 3, 4, 5 – Pegawai kantor/perusahaan kota
Iroh – Istri Sarkam
Otong – Pekerja pabrik
Samad – Pekerja pabrik (tertulis “Ibidum”)
Prajurit-prajurit
Komandan
Juragan pabrik – Pemilik pabrik dan traktor
Wartawan
Pemuda-pemuda, gadis-gadis dan orang-orang kampung lainnya.
Gambaran Latar:
- Latar utama: Di sebuah kampung pertanian tradisional dengan lumbung padi umum, sawah.
- Latar lain : Rumah Amat, rumah Sesepuh (ayah Tiwi), balai kampung, kantor.
- Latar waktu : Masa panen di tengah musim kemarau, sore dan siang hari, serta rumah- rumah panggung, suasana upacara panen, serta kemudian kehadiran pabrik penggilingan padi dan traktor. paling atas gedung di kota, serta atap gedung bertingkat. Beberapa transisi malam; konteks bahasan ada pada era modern di daerah pedesaan pas ketika masuknya traktor dan terjadinya transmigrasi.
Informasi lain : Naskah ini “Ditulis ulang oleh Teater Awal Bandung".
SINOPSIS
Naskah dengan judul amat jaga menggambarkan sebuah kampung pertanian tradisional yang sedang melakukan upacara panen untuk Nyi Pohaci Sang Hyang Sri, dengan tokoh utama Amat dan Amat Jaga, dua pemuda kampung yang sama-sama dekat dengan Tiwi, putri sesepuh kampung. Masuknya pabrik penggilingan padi dan usaha penyewaan traktor mengubah struktur ekonomi dan sosial, pemilik kerbau seperti Sarkam, tukang tumbuk padi yaitu Sawi, dan para tukang cangkul kehilangan mata pencaharian, sementara sebagian petani menjual tanah dan pergi ke kota.
Amat sebagai seorang pemuda yang baik dan berjiwa revolusioner berusaha untuk mempertahankan kampung, dengan mengajak warga untuk menolak ketergantungan pada pabrik dan traktor, serta mengupayakan kerja sama antarwarga agar kemudian mereka tetap bisa hidup di kampung tanpa menjual tanah. Usahanya banyak mendapat penolakan; sebagian warga memilih pergi ke kota, sebagian memukulinya karena merasa dihina atau terdesak oleh keadaan. Setelah diperlakukan seperti itu amat tidak tinggal diam ia lalu memutuskan pergi ke kota untuk menghadap “pemerintah” dan meminta bantuan agar pabrik dan traktor dihentikan, namun di kantor para pegawai justru memandang persoalan kampungnya dari sudut pandang birokratis yang kemudian mempermainkannya hingga ia tersesat ke atap gedung dan mengalami krisis iman dan keputusasaan.
Sementara itu di kampung, Sesepuh wafat, upacara panen terancam dan tidak lagi dilaksanakan, setelah itu terjadi sebuah kecelakaan fatal di pabrik, yang kemudian hal itu makin menguatkan kesan “kutukan” yang dulu pernah diucapkan oleh nenek yang tidak lain tidak bukan adalah pemimpin upacara. Tiwi kehilangan ayahnya dan membuat dirinya menjadi terombang-ambing. Amat menghilang, sedangkan Amat Jaga yang kini menjadi mandor pabrik dan bagian dari struktur baru mencoba untuk melamar Tiwi yang sedang dalam keadaan tergoncang, dan sekaligus memfitnah Amat sebagai salah seorang penghalang modernisasi yang mungkin telah dipenjara atau ditembak.
Di puncak cerita, saat persiapan pernikahan Amat Jaga dan Tiwi di balai kampung, pabrik terbakar karena Amat yang kembali dengan kapak dan menghancurkan traktor-traktor serta membakar pabrik sebagai satu bentuk perlawanan terakhir terhadap struktur yang telah menindas kampungnya. Kemudian amat dan amat Jaga berkelahi. Amat Jaga tewas di luar panggung, dan Amat menyatakan pada “langit” bahwa pabrik, traktor, dan penjaganya sudah tidak ada, sebelum ia dihujani tembakan oleh prajurit-prajurit yang memburunya.
Pada bagian akhir, juragan pabrik dan wartawan datang ketempat kejadian dimana amat dan amat jaga berkelahi dan mencoba untuk memutar balikkan peristiwa menjadi kisah “Cinta Segitiga Berdarah”, menutupi konteks perjuangan sosial Amat dan menjadikannya komoditas berita sensasional. Tiwi muncul selepas itu, dalam pakaian pengantin, berdiri di dekat mayat Amat dan hanya mampu mengucap bahwa orang-orang berkata Amat mati ditembak. Naskah berakhir dalam suasana tragis, menegaskan korban kemanusiaan dari modernisasi yang menyebelah matakan nilai kemanusiaan.
ULASAN:
“Amat Jaga” menempatkan konflik antara tradisi agraris dan modernisasi kapitalistik sebagai poros utama dengan kampung sebagai ruang sosial yang diguncang akibat masuknya pabrik dan traktor. Saini K.M. menampilkan bagaimana kemudian teknologi yang seharusnya membantu justru meminggirkan kelompok rentan, seperti pemilik kerbau, tukang cangkul, tukang tumbuk padi, nelayan, dan penangkap burung ketika dikelola oleh kekuatan modal yang menempatkan laba di atas keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tokoh Amat menjadi figur idealis revolusionis yang percaya pada solidaritas dan kedaulatan kampung, ia menolak menjual tanah, memilih tetap menggunakan tenaga Sawi untuk menumbuk padi, serta berusaha mengorganisir warga melawan ketergantungan pada pabrik dan traktor. Namun idealismenya berhadapan dengan kenyataan keras, sebagiann warga yang miskin, takut, dan putus asa mudah terpecah, saling curiga, bahkan berbalik memukulinya, sementara struktur kekuasaan seperti (juragan pabrik, aparat, birokrasi kota) menganggap kampung hanya sebagai data statistik dalam narasi pembangunan nasional dan global.
Naskah ini juga mengkritik cara negara dan kota memandang persoalan desa, pegawai kantor sibuk dengan wacana KB, bibit unggul, teknologi dan transmigrasi, tetapi buta dan abai bahkan tuli terhadap aspirasi yang menjadi cermin keadaan konkret orang kampung yang meminta penghentian praktik ekonomi yang memusnahkan mata pencaharian mereka. Adegan di kantor dan di atap gedung memperlihatkan jarak bahasa dan imajinasi antara pusat kekuasaan dan warga desa, hingga Amat didorong ke titik di mana ia merasa “Tuhan pun bisu”, dan memilih aksi kekerasan simbolik dengan menghancurkan pabrik.
Secara dramatik, naskah kaya akan perangkat teater, seperti musik tradisional (tabuh-tabuhan), tarian, nyanyian, penggunaan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan sekaligus “kutukan” ketika adat diabaikan, dan permainan ruang yang menembus batas panggung penonton lewat “Adegan Khusus” ketika prajurit mencari Amat di antara penonton. Akhir yang tragis dimana Amat dan Amat Jaga mati, Tiwi sendirian dalam pakaian pengantin, dan peristiwa disederhanakan oleh media yang tidak bertanggung jawab yang menjadikan peristiwa itu seakan seperti drama cinta berdarah yang menunjukkan bagaimana kekerasan struktural dan informasi yang dimanipulasi dapat menghapus jejak perjuangan rakyat kecil, menjadikan mereka sekadar berita dan tontonan.
Diresensi oleh: Zharry Dubot

Tidak ada komentar: