Naskah PASIR BATU KECAPI Hermana HMT
PASIR BATU KECAPI
Karya Hermana HMT
Identitas Naskah
Judul Naskah: Pasir batu kecapi
Penulis Naskah: Hermana HMT
Halaman:23
Tahun Naskah:
Tahun naskah: Tidak dicantumkan (dipentaskan untuk Studi Panggung Angkatan 38)
Kota/negara: Bandung, Indonesia
Jenis naskah: Naskah drama panggung
Genre terkait: Drama sosial, kritik politik, tragedi
Jumlah babak: 1 babak (dengan 10 adegan)
Jumlah adegan: 10 adegan
Jumlah tokoh: 15 tokoh (termasuk kelompok massa)
Daftar tokoh: Mama, Dadang, Imas, Ahmad, Opik, Hendi, Pengusaha, Kepala Desa (Kades), Kepala Dusun (Kadus), Pimpinan Demonstrasi, Warga (Udin), Anak Kecil, serta massa pendemo.
Gambaran Latar:
Latar utama berada di kawasan hutan dan sumber mata air Pasir Batu Kecapi serta rumah Mama. Waktu tidak disebutkan secara pasti, tetapi suasananya menggambarkan zaman sekarang, ditandai dengan isu pembangunan, politik lokal, demonstrasi, dan praktik suap.
Informasi lain:
Naskah ini diadaptasi dan ditulis ulang untuk keperluan Studi Panggung Angkatan 38 Teater Awal Bandung. Terdapat unsur musik, koor, dan simbol magis (menhir berbentuk kecapi) yang memperkuat nuansa sakral sekaligus tragis.
Sinopsis
Cerita berawal dari tiga orang Ahmad, Opik, dan Hendi yang datang ke Batu Kecapi untuk meminta jabatan dan keberuntungan. Dari awal sudah terlihat bahwa tempat itu dipercaya memiliki kekuatan gaib.
Di sisi lain, Mama sebagai pemilik kawasan Pasir Batu Kecapi berniat mewakafkan tanah tersebut agar tetap menjadi sumber kehidupan masyarakat. Namun anak-anaknya, Dadang dan Imas, menolak karena mereka punya kepentingan politik dan bisnis.
Isu pemujaan dan kemaksiatan sengaja dihembuskan untuk menekan Mama. Demonstrasi terjadi. Ada praktik suap kepada aparat desa. Pengusaha datang membawa uang miliaran agar tanah dijual dan dijadikan kawasan bisnis. Mama tetap menolak.
Sayangnya, tipu daya berjalan diam-diam. Akhirnya kawasan itu benar-benar dijual dan dihancurkan. Hutan digusur, mata air ditutup, menhir dimusnahkan. Di akhir cerita, Mama hanya bisa menangis bersama seorang anak kecil yang kehilangan ruang hidupnya. Pasir Batu Kecapi tinggal kenangan.
Ulasan
Menurut saya, naskah ini cukup kuat dalam menyampaikan kritik sosial. Konfliknya tidak terlalu rumit, tapi justru terasa dekat dengan realitas. Politik uang, suap pejabat, pengusaha yang haus proyek, sampai anak yang tega memanipulasi orang tuanya sendiri itu bukan hal asing di sekitar kita.
Tokoh Mama digambarkan sebagai simbol nurani dan tradisi. Ia menjaga amanat leluhur (kabuyutan), bukan sekadar soal tanah, tapi soal nilai. Sementara Dadang dan Imas mewakili generasi yang pragmatis, yang melihat tanah hanya sebagai aset ekonomi dan kendaraan kekuasaan.
Bagian yang menurut saya paling menyentuh ada di akhir. Tidak banyak dialog panjang, tapi kalimat “Hari ini kita telah kehilangan segala-galanya” terasa sederhana namun berat. Kehilangan di sini bukan cuma hutan, tapi juga akal sehat.
Secara pementasan, naskah ini juga memberi ruang simbolik seperti tarian di atas batu, koor massa, dan lagu penutup yang bisa dibuat kuat secara visual. Walau begitu, beberapa dialog terasa agak langsung dan blak-blakan dalam menyampaikan pesan, jadi aktor harus pintar menghidupkannya supaya tidak terasa seperti ceramah.
Secara keseluruhan, Pasir Batu Kecapi adalah drama yang relevan. Ia berbicara tentang lingkungan, moral, dan kekuasaan, tanpa perlu teori tinggi. Ceritanya sederhana, tapi tamparannya terasa.

Tidak ada komentar: