MUN- TANGAN ALIF - GANDRUNG MILAD XXXVII TEATER AWAL BANDUNG: "INFINITY SPACE"
“Bapuh jeung Ambu, salaku panungtun spiritual, miboga pancen gawé ngabuka tujuh hambalan raisah pikeun anak turunan. Ngalambangkrun lalampahan spiritual manusa dina ngeusian kahirupan di dunya. Unggal anak turunan dibekelan ‘kotak korék api’ isina 99 siki korék anu ngandung kasucian, simbol anu ngajangjikeun kahirupan anu bermakna di dunya. Nanging maranehna nyanghareupan gogoda pikeun manggihan kabeneran anu langgeng dina lalampahan pinuh cobaan. Yén manusa kudu salawasna nyekel pageuh aturan nu ditantukeun ku Alloh”
Pementasan naskah yang disutradarai oleh Dien Saefuddaulah dengan asisten sutradara Hilal Adeung berhasil mewujudkan sebuah pementasan yang memukau dengan nilai art dan non-art yang sangat mendalam. Para elemen lain yang ikut mensukseskan acara pementasan ini, seperti aktor-aktor; Naufal Soda, Salmahat Jana, Alpian Roja, Icha Ipoh, Ranum Milaw, Rifky Mursid, Yusuf Mugang, Nisa Sapal, Nadhief Adem, Bhaidawi Kobet, Ihsan Ijat, Hilal Adeung, Ghifari Jaleuy, dan Rinpo Gepod, pemusik; Hilal Adu, Ilyas Mate, Agris Yusa Ramadhan, Dipo Attatimi, Dajmat M. Rizky, Akbar Maulana, Latif Sota dan Seli Apriani, artistik; Anas Piket dan Amar Dema, penata make up dan wardrobe; Geby Bata dan Nisa Sapal, penata cahaya; Opal Kutil, Pimpinan Produksi; Kakang Tese, stage manager; Yusuf Mugang, koordinator latihan; Baidhawi Kobet, dan media; Naufal Soda dan Rifky Mursid.
Naskah Muntangan Alif karya H.R. Hidayat Suryalaga adalah
salah satu karya sastra Sunda yang penuh dengan muatan filosofis dan religius. Muntangan
Alif dapat diartikan sebagai perjalanan menuju pemahaman atau pencerahan yang
dilambangkan dengan huruf Alif, huruf pertama dalam abjad Arab. Alif sering
dianggap sebagai simbol ketunggalan atau keesaan Tuhan dalam berbagai tradisi
sufi. Dalam konteks naskah ini, Alif bukan sekedar huruf, tetapi melambangkan
perjalanan spritual menuju hakikat kebenaran. Melalui perjalanan ini, sang
tokoh mengalami berbagai tantangan dan ujian yang mengajarkannya tentang
kerendahan hati, introspeksi, serta hubungan antara diri dan Tuhan. Tokoh
tersebut menyadari bahwa untuk mencapai pencerahan spiritual, ia harus
melepaskan keterikatan duniawi dan mendekatkan diri pada hakikat yang
tertinggi, yaitu Alif sebagai simbol keesaan Tuhan.
Dalam pementasan Muntangan Alif ini sutradara berhasil menggambarkan konsep-konsep abstrak, seperti ketuhanan, spiritualis, dan perjalanan batin dengan cara yang lebih mudah dipahami. Dengan tokoh-tokoh para iblis yang dibuat sedikit jenaka dan kostum serta make up yang sangat mendukung, membuat para apresiator lebih menikmati pertunjukkan teater ini.
Gandrung Milad yang sangat mengesankan ini disponsori oleh Nu Green Tea, OMG, Opini Kopi, dan DCDC Campus Night. Semoga di waktu ke depannya Teater Awal Bandung dapat terus menemani dan memberikan pesan-pesan edukatif dan menghibur dengan menampilkan sebuah karya dalam bentuk sebuah pementasan teater.
Terima kasih kepada seluruh apresiator yang telah hadir dalam pementasan teater Muntangan Alif karta Nazarudin Azhar. Semoga Senyum Tuhan Selalu Menyertai Aktivitas Kita Selaku Khalifah di Muka Bumi Hingga Nafas Terakhir Berpapasaan Tuhan. Amin. Salam Jiwa!
.png)
Tidak ada komentar: