Naskah NYAI ONTOROSOH Karya R Giryadi
Identitas Naskah
Penulis Naskah : R Giryadi
Halaman : 28 halaman
Tahun Naskah : 2006
Kota/Negara : Indonesia
Jenis Naskah : Drama Panggung
Genre Terkait : Drama realisme, tragedi sosial
Jumlah Babak : 5 Babak
Jumlah Adegan : 11 Adegan
Para Tokoh : Nyai Ontosoh, TB. Mellema, Robert Mellema, Anneli Mellema, Minke, Mauritz Mellema, Sastromo, Istri Sastromo, Sanikem, Babah Ah-Tjong, Minem, dan pemain pendukung seperti (Buruh pabrik, Pelacur, Penduduk, Dua Utusan, dan Meiko.
Daftar Tokoh :
- Nyai Ontosoroh - Istri (gundik) TB Mellema
- Tuan Besar Mellema - Tuannya Nyai
- Robert Mellema - Anak Nyai
- Annelies - Anak Nyai
- Minke - Putra bupati Brojonegoro
- Mauritz Mellema - Putra TB Mellema
- Darsam - Pengawal setia Nyai dari Madura
- Sastrotomo - Ayah Sanikem
- Istri Sastrotomo - Ibu Sanikem
- Sanikem - Nama kecil Nyai
- Babah Ah Tjong - Germo pelacuran
- Minem - Salah satu buruh pabrik
Pemain Pendukung : Buruh Pabrik, Pelacur, Penduduk, Dua Utusan, Meiko.
Gambaran Latar :
- Latar Utama : Disebuah rumah kediaman keluarga TB. Mellema dan Nyai Ontosoroh, di Kota surabaya kecamatan wonokromo.
- Latar lain : Rumah sanikem, pabrik gula, pengadilan, Rumah Peranakan Babah Ah-Tjong/Rumah, Toko (Ruko).
Sinopsis
Naskah dengan judul Nyai Ontosoroh yang diadaptasi dari novel Bumi manusia ini menggambarkan tentang dinamika sosial yang terjadi pada era kolonial, di mana maraknya ketimpangan sosial dan perlakuan a moral sudah begitu marak di Indonesia pada kala itu. Cerita diawali dengan penggambaran di suatu tempat di sebuah pabrik gula dengan menampilkan suatu kejadian tak beradab dimana terjadi suatu pemaksaan yang tidak terpuji dari seorang ayah kepada anak perempuannya, yang pada saat itu sang anak akan dijual kepada seorang londo kaya untuk dijadikan seorang gundik. Dengan menjual putrinya itulah sang ayah akan mendapatkan imbalan dengan dinaikkan jabatan di tempatnya bekerja. Beberapa tahun telah berlalu sang anak perempuan tumbuh dengan hebat nan gagah di sebuah rumah yang menjadi kediaman keluarga TB, Mellema. Anak perempuan sekarang dipanggil dengan sebutan Nyai sesuai dengan kebiasaan pada zaman itu yang ketika seorang perempuan dijadikan gundik oleh orang-orang londo maka nama Nyai akan di sematkan pada perempuan itu.
Sudah beberapa tahun setelah Nyai dijual oleh bapaknya dan berujung hidup bersama dengan seorang londo kaya pemilik perusahaan, akhirnya Nyai memiliki dua anak yang lahir langsung dari rahimnya, mereka ialah Robert Mellema dan Annaelis, keduanya tumbuh menjadi dua orang anak yang cantik dan tampan namun dengan dua kepribadian yang sangat jauh berbeda. Robert yang memiliki karakter angkuh dan keras kepala, berusaha meyakinkan diri dan orang lain bahwa dia adalah asli Belanda dan menyangkal darah pribumi yang ada pada dirinya. Sedangkan Annelis adalah sosok perempuan cantik yang baik dan lembut, baik dari tutur kata maupun perilakunya, dia mungkin sepersekian persen dari banyaknya orang dengan kepemilikan setengah darah Belanda setengah pribumi tetapi bangga dan senang dengan darah pribuminya.
Di sela kesibukan orang-orang wonokromo ada seorang pemuda asli pribumi anak dari seorang bupati bernama Minke yang sedah menempuh pendidikan di salah satu sekolah ternama pada saat itu yaitu di HBS, yang dipertemukan dengan Annelis di rumah kediaman keluarga TB. Mellema. Kehadiran Minke tidak disukai Robbert Mellema karena dia merasa jijik dengan Minke yang dalam darahnya mengalir darah pribumi.
Jalan cerita pun tetap berlanjut dengan menampilkan beberapa kisah asmara yang dijalin oleh Minke dan Annelis. Cerita mulai memanas ketika anak asli TB. Mellema dari hasil pernikahan yang sah tiba-tiba muncul dengan membawa amarah atas tindakan TB. mellema terhadap ibu atau istri TB. Mellema itu sendiri. Selepas kedatangannya situasi rumah TB. Mellema mulai menjadi tidak setabil, dengan TB, Mellema yang jadi sering datang ketempat kediaman Ah-Tjong seorang germo pelacuran.
Tak berselang lama tersebar kabar bahwa TB. Melemma mati di kediaman Babah Ah-Tjong, situasi sosial mulai ramai dengan memperbincangkan kejadian itu, surat kabar dipenuhi dengan tulisan yang membahasa kematian TB. Mellema, bahkan sampai ada yang menyangkut pautkan dengan Nyai dan anaknya yakni Annelis, mereka diseret ke pengadilan atas tuduhan pembunuhan terhadap TB. Mellema, namun Nyai Ontosoroh bukan sosok nyai pada kebanyakanya, dia seperti sosok mahluk raksasa yang berdiam pada tubuh manusia, Nyai dengan berani tanpa rasa takut sedikitpun menyangkal keputusan hakim tentang tuduhan yang disodorkan padanya, lalu Minke sebagai seorang manusia terdidik pada kala itu tentu tidak tinggal diam dia berusaha sebisa mungkin untuk membantu Nyai dan Anellis agar dapat terbebas dari jeratan tuduhan tak berdasar itu, maka Minke menggunakan segenap keahlian menulisnya untuk mencoba mengungkap kejadian asli kepada publik melewati media cetak, koran-koran, walaupun sebetulnya tulisannya hanya sebatas angin lalu yang kurang mendapat perhatian dari publik yang menjadi tujuan tulisanya itu.
Di pengadilan sang Nyai tidak diperkenankan untuk berdiri ketika akan berhadapan dengan hakim, karena Nyai adalah orang pribumi sedangkan pada saat itu pribumi dan orang-orang kulit putih sangat dibedakan sekali dalam segala hal, salah satunya adalah etika persidangan bahwa orang pribumi dirasa kurang pantas untuk bisa berdiri setara dengan orang berkulit putih ketika berada dalam lingkungan penting seperti dipengadilan. Tuduhan demi tuduhan bermunculan menghatam Nyai yang tak bersalah, bahkan makin kesini-kesini tuduhan nya sudah mulai berpindah haluan, bukan lagi membahas tentang kematian TB. Mellema melainkan mempertanyakan dan menggugat hubungan orangtua dan anak antara Nyai dan Annelis karena memang secara hukum belanda bahwa anak yang terlahir dari hasil hubungan tanpa ikatan yang sah maka sang ibu tidak akan memiliki hak asuh atas anaknya itu. Annelis digugat untuk kemudian diberangkatkan ke belanda dan tinggal bersama istri sah dari RB. Mellema yang anaknya pernah datang sebelum-sebelumnya.
Minke dan Annelis yang di beberapa waktu sebelumnya telah menikah akhirnya mencoba melawan dengan anggapan bahwa mereka telah sah menikah dengan hukum Islam maka jika Annelis telah memiliki suami dan sang suami disitu juga memiliki hak atas Annelis, dan menyuruh Annelis untuk berdiam di Indonesisa bersama nya, bersama Nyai ibu kandung Annelis. Namun apalah daya bahwa sangat jelas lemahnya hukum asli yang ada di tanah pribumi ketika dihadapkan dengan hukum orang berkulit putih yang digadang-gadang keagungannya namun aslinya sangatlah biadab, biadab, biadab, biadab, biadab, BIADAB.
Akhirnya dengan beberapa perlawan dan usaha, Nyai bisa terbebas dari tuduhanya atas pembunhan terhadap RB. Mellema, namun alangkah sesak hati Nyai yang mengetahui bahwa putri kecilnya akan dipaksa dibawa ke tanah asing yang tidak dikenalinya, buah hati yang ia sayangi dan cintai sepenuh hati sedari kecil hingga tumbuh menjadi gadis yang begitu anggun akan berpisah dengan jarak waktu yang tidak ditentukan. Tentu Nyai tidak tinggal diam, Nyai Ontosoroh dengan modal kekuatan hati seorang ibu dan kepandaianya yang didapatkan dari hasil belajar dengan RB. Mellema mencoba untuk melawan balik dan menyangkal kebijakan hukum orang berkulit putih yang telah menyisakan jarak antara keadilan dan kemanusian atas pemaksaan pengalihan hak asuh yang dipaksakan. Namun hasilnya tetap, kekuatan yang jauh berbeda antara pihak Nyai dan pihak Hukum yang sebagai salah satu pion pemegang sistem sangat terlihat jelas. Akhirnya keputusan dimantapkan untuk memberangkatkan Anellis ke Belanda. Minke sebagai suaminya pun tak kuasa menahan air matanya yang meleleh akibat rasa sayang yang begitu indah dan luas kepada Annelis yang adalah istrinya. Annelis pun akhirnya pergi dengan hati hancur dan jiwa yang tak lagi ingin hidup, Annelis pergi membawa sederet kenangan dan luka yang disebabkan oleh kebiadaban orang-orang kolonial yang buta atas kebiadabannya dan tenggelam dalam bayang-bayang semu yang beranggapan mereka orang berkulit putih lebih agung dan tinggi derajatnya dari pada orang-orang pribumi.
Ulasan
Naskah Nyai Ontosoroh karya R Giryadi yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer ini merupakan sebuah drama panggung yang sangat kaya dengan kritik sosial terhadap sistem kolonial yang begitu rumpang dan tidak berperikemanusiaan. Sejak awal cerita penonton langsung disuguhkan gambaran kerasnya kehidupan pribumi pada masa kolonial. Adegan penjualan Sanikem oleh ayahnya sendiri menjadi pintu masuk yang kuat untuk memahami bagaimana kemiskinan, jabatan, dan ambisi mampu mengalahkan nurani seorang ayah. Peristiwa tersebut bukan hanya sekadar konflik keluarga, tetapi menjadi simbol betapa rendahnya posisi perempuan pribumi pada masa itu.
Tokoh Nyai Ontosoroh menjadi pusat kekuatan dalam naskah ini. Ia bukan digambarkan sebagai nyai pada umumnya yang lemah dan tunduk, melainkan sebagai sosok perempuan tangguh, cerdas, dan memiliki keberanian luar biasa. Ia mampu mengelola perusahaan besar, mendidik anak-anaknya, serta berdiri tegak menghadapi tekanan hukum kolonial. Sosoknya seolah menjadi representasi perlawanan perempuan pribumi terhadap sistem yang menindas.
Konflik semakin memuncak ketika persoalan hukum dan status anak-anaknya dipermasalahkan. Ketidakadilan hukum kolonial begitu terasa, terutama ketika Nyai tidak diakui sebagai ibu sah bagi anak yang ia lahirkan sendiri. Perbedaan perlakuan antara pribumi dan orang Eropa dipertontonkan secara terang-terangan dalam adegan persidangan. Di sinilah terlihat jelas bahwa hukum yang diagungkan ternyata tidak berdiri di atas keadilan, melainkan di atas ras dan kekuasaan.
Hubungan antara Minke dan Annelis memberi warna romantis dalam cerita, namun tetap dibayangi persoalan identitas, darah, dan status sosial. Cinta mereka menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap sistem besar yang mencoba memisahkan keduanya. Namun pada akhirnya, kekuatan hukum kolonial yang lebih dominan membuat kebahagiaan mereka harus runtuh.
Secara keseluruhan, naskah ini tidak hanya menyajikan drama keluarga, tetapi juga menggambarkan realitas sosial yang pahit pada masa penjajahan. Tema ketimpangan sosial, diskriminasi rasial, serta perjuangan harga diri begitu terasa dari awal hingga akhir. Bahasa yang digunakan lugas dan emosional, sehingga mampu menghadirkan suasana tegang, haru, sekaligus amarah terhadap kebiadaban sistem kolonial yang dipertontonkan dalam cerita. Naskah ini meninggalkan kesan mendalam bahwa perjuangan melawan ketidakadilan bukan hanya tentang kekuatan fisik, melainkan tentang keteguhan hati dan keberanian untuk bersuara, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nyai Ontosoroh.

Tidak ada komentar: